Khotbah Jum'at

Khotbah Jum’at ( 6 Perkara Yang Merusak hati)

PERKARA – PERKARA YANG MERUSAK HATI

 

Khotbah 1

ِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Ma’asyiral Muslimin, jamaah jum’at yang dimuliakan oleh allah.

Pada jum’at yang berbahagia ini kami akan menyampaikan tema tentang hal hal yang dapat merusak hati kita . Dengan harapan kita dapat mewaspadainya dan menjaga hati kita dari marabahayanya. Jangan sampai hati kita seperti hati orang kafir yang rusak dan tertutup bagi cahaya kebenaran allah berfirman

Surat Al-Muthaffifin Ayat 14

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (Al-Muthaffifin: 14)

            Jamaah juma’at yang dimuliakan Allah, diantara hal hal yang dapat merusak hati adalah sebagai berikut.

Dosa dan Maksiat

Dosa dan maksiat dapat meninggalkan noda hitam di hati. Semakin banyak dosa yang kita lakukan semakin banyak pula noda hitam yang menutupi hati kita. Akibatnya, hati kita menjadi hitam kelam dan terhalang dari cahaya allah. Rasullulah S.A.W bersabda :

Seorang mukmin apabila melakukan suatu dosa, maka bercak hitam akan muncul di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan dosa dan beristighfar maka hatinya akan kembali mengkilat. Jika ia menambahkan perbuatan dosanya maka bertambah pula bercak hitam sehingga menutupi hatinya itulah noda yang disebutkan Allah S.W.T dalam Al-quran “ Sekali- kali tidak (Demikian ), Sbenarnya apa yang selalu meraka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al- Muthaffifin: 14) (Hr. Ahmad)

Melalaikan Allah dan Menyibukan  diri dengan selainnya

Sedikit mengingat allah dan bnyak menyibukkan diri dengan urusan duniawi akan merusak hati kita allah berfirman,

kahfi 28.png

 “dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

          Jadi, ketika kita melalikan allah dan menyibukkan diri dengan berbagai keinginan syahwat, hati kiat akan rusak sehingga kita menjadi orang orang yang melewati batas. Karenanya, kita tidak layak dijadikan seorang pemimpin

Bergaul dengan orang orang berpengarai buruk

Teman yangt buruk akan memberikan pengaruh yang buruk bagi siapapun yang bergaul dengannya. Karenanya, Rasul S.A.W melarang kita berteman dengan orang jahat dan buruk seraya bersabda,

“Perumpamaan teman yang buruk adlah seperti tukang pembuat arang. Jika kamu tidak terkena arangnya kamu akan terkena asapnya” (HR. Abu Dawud)

Bahkan teman yang buruk akan mengeluarkannya dari agama islam rasul S.A.W bersabda,

“Seseorang akan mengikuti agama teman akrabnya, maka hendaklah salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa yang akan dijadikan teman akrabnya” (HR. Ahmad)

Berlebihan makan dan minum

          Kita semua tahu bahwa makan dan minum berlebih memberikan efek negatif bagi tubuh seperti yang dikatakan Fudhail bin `iyadh, “aku tidak pernah kenyang sejak enam belas tahun yang lalu, kecuali sekali, lantas aku memasukkan tanganku untuk memuntahkannya. Karena kenyang memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur dan melemahkan semangat beribadah.”

Terlalu banyak tertawa

          Banyak tertawa tidak hanya akan merusak hati, bahkan akan mematikannya. Rasulullah S.A.W bersabda ,

Janganlah kamu memperbanyak tawa. Karena banyak tawa akan mematikan.” (HR. Ibnu Majah)

            Seorang yang banyak tertawa akan sulit untuk berempati dan banyak menyakiti hati orang lain, sedang ia tidak menyadarinya. Sering kali ia berbohong untuk menciptakan suasana humor dan canda tawa sehingga menjerumuskan ddiri dalam kebinasaan. Rasulullah S.A.W bersabda ,

Celaka bagi seorang yang berbicara lalu berdusta untuk mengundang tawa sekelompok orang. Celakalah dia, celakalah dia.(HR. Abu Dawud)

Bahkan selera humor dan tawanya akan mendorongnya untuk terus bercanda dan tertawa ria meskipun dengan menjadikan Allah, Rasul, dan Islam sebagai bahan tertawaan sebagaimana yang dilakukan orang orang munafik yang mengolok olok nabi S.A.W dan para sahabat. Ketika beliau ditanya merka hanya berkata, “sesungguhnya kami hanya sekedar berkelakar dan bercanda.” Berkenaan dengan peristwa ini maka turunlah ayat,

9:65

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (at-Taubah: 65)

KHOTBAH 2

 Ma’asyiral Muslimin, jamaah jum’at yang dimuliakan oleh allah.

            Pada khotbah pertama telah disebutkan lima perkara yang dapat merusak hati kita. Pada khutbah kedua ini kami hanya ingin menambahkan satu perkara saja.

Banyak Tidur

          Rasulullah bersabda ,

“Hai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur namun hatiku tidak tidur(HR. Bukhari dan Muslim)

            Hadis ini menunjukkan apabila kedua mata seseorang tertidur, maka tertidur pula kecuali rasul S.A.W . Hati beliau tetap terjaga dan mengingat allah. Jadi, kalua kita tidur, maka hati kita juga tertidur. Tidur pada hakikatnya adalah kematian kecil. Jika kita mbanyak tidur melebihi kebutuhan, berarti  kita telah mengantarkan hati kepada kematian. Karenanya, para ulama salaf berusaha  untuk mengurangi jamtidur mereka. Bahkan, diantara mereka ada yang tidak makan dan tidak pula tidur, kecuali kalau fisiknya sangat membuth kan makan dan tidur.

Diriwayatkan bahwa imamul haramain berkata, “Aku tidak pernah tidur dan makan sebagai suatu kebiasaan. Aku tidur jika terkalahkan oleh rasa kantuk, baik siang maupun malam hari. Aku tidak makan, kecuali apabila aku berhasrat makan di waktu kapan pun.”

Jamaah jum’at yang dimuliakan allah, marilah kita tutup khotbah jum’at ini dengan doa. Semoga allah berkenan mengabulkannya

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ., أَمَّابعد,

 “Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim.Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.”

Ammaa ba’ad..

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

“Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.

Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.

Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.”